Carbon Trade, Solusi Kurangi Efek GlobaL Warming

 

Global Warming atau Pemanasan Global saat ini telah menjadi soroton seluruh masyarakat dunia dan menjadi topik utama dalam Konferensi Para Pihak ke-13 dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC di Nusa Dua Bali, 3 – 14 Desember 2007. Sekitar 9.575 peserta dari 185 negara berusaha untuk mencari solusi bagaimana menahan laju dari dampak Global Warming tersebut . Global Waming sendiri adalah meningkatnya suhu rata-rata di permukaan bumi akibat dari meningkatnya jumlah emisi karbon di atmosfer. Global Warming akan diikuti dengan perubahan iklim di bumi ini, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga terjadi menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami musim kering yang berkepanjangan akibat naiknya suhu di bumi.

Selain itu juga dampak dari Global Warming adalah meningkatnya tinggi muka air laut dan membuat air laut tidak asin lagi. Menurut para peneliti, perubahan iklim di belahan Bumi utara telah melelehkan gletser dan membawa lebih banyak hujan. Ini menyebabkan lebih banyak air tawar mengalir ke laut. Akibat langsungnya adalah kenaikan permukaan air laut dan tenggelamnya wilayah pesisir lalu hujan dan aliran di wilayah tinggi akan meningkat. Curry dan Cecilie Mauritzen dari Norwegian Meteorological Institute memperhitungkan ada ekstra 19.000 kilometer kubik air mengalir ke laut utara antara tahun 1965 hingga 1995. Sebagai perbandingan, Sungai Mississippi mengalirkan sekitar 500 kilometer kubik air tawar ke Teluk Meksiko tiap tahun. Sedangkan Amazon, sungai terbesar dunia, memasok sekitar 5.000 kilometer kubik air ke lautan setiap tahun.

Karena air dengan kadar garam rendah itu kurang padat, maka menambahkan air tawar ke laut bisa mempengaruhi alirannya – seperti sistem arus Atlantik yang mempertemukan air dingin dari wilayah Artik dengan air hangat dari daerah tropis. Bagian atas arus ini terdiri dari aliran air hangat, seperti arus teluk, yang bergerak ke utara di sepanjang permukaan laut. Di wilayah lintang yang tinggi, arus ini menjadi dingin dan menuju ke bawah – melepaskan panas ke atmosfer dan menyebabkan iklim dingin yang tidak membekukan di wilayah-wilayah seperti Inggris. Nah, bila banyaknya air tawar yang masuk ke laut mengubah aliran ini – baik musiman maupun jangka panjang – maka ia akan mempengaruhi banyak hal, mulai terbentuknya badai hingga banjir dan udara panas. Sejauh ini memang belum ada perubahan signifikan yang diteliti berkaitan dengan makin banyaknya air tawar yang masuk ke laut. Namun Curry dan Mauritzen memperkirakan perubahan seperti itu akan terjadi bila pemanasan global terus berlangsung.

Penyebab utama dari Global Warming itu sendiri adalah menngkatnya jumlah emisi karbon akibat penggunaan energi fosil, terutama di sektor industri. Negara industri seperti Amerika Serikat, China, Australia, Jepang dan Rusia menjadi aktor utama sebagai penyebabnya. Hal ini disebabkan oleh pola konsumtif dan gaya hidup masyarakat negara-negara maju tersebut. AS sendiri adalah salah satu negara yang belum meratifikasi protokol Kyoto, sedangkan Australia sudah meratifikasi protokol Kyoto dengan dilantiknya Kevin Rudd sebagai perdana menteri Australia yang baru menggantikan John Howard. Penyebab lainnya adalah rusaknya hutan sebagai paru-paru bumi dan sebagai media penyerap karbon terbesar. Pembalakan liar, kebakaran hutan, menyebabkan deforestasi besar-besaran karena tidak diimbangi dengan pelestarian dan penanaman kembali hutan tersebut. Karbon yang dihasilkan dari kebakaran hutan tersebut juga mendukung terjadinya Global Warming, dan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karbon terbesar dari kebakaran hutan. Seperti yang kita ketahui, kebakaran hutan merupakan masalah rutin bagi negara kita.

Beberapa cara dan metode pengurangan dampak dari Global Warming sedang dikembangkan oleh para negara maju akibat dari melebihi batas emisi karbon yang dihasilkan oleh negara mereka dari batas normal, diantaranya adalah carbon trade atau perdagangan karbon. Carbon trade adalah menjual kemampuan pohon, terutama pohon berkayu untuk menyerap karbon demi mengurangi emisi karbon di atmosfer. Carbon trade merupakan mekanisme baru yang berkembang saat ini, dimana para negara maju membayar kompensasi akibat emisi karbon yang dihasilkan oleh negaranya kepada negara berkembang, agar dapat mengelola dan menjaga kelestarian hutannya dengan tujuan utama sebagai penyerap karbon yang ada di atmosfer agar mengurangi emisi karbon di udara sekaligus mengurangi dampak dari Global Warming. Beberapa aktor Hollywood bahkan berinisiatif untuk mengurangi dampak dari Global Warming, diantaranya Brad Pitt yang membayar pada perusahaan pemasaran karbon sebesar 10.000dollar AS untuk memelihara hutan atas namanya di Kerajaan Bhutan, Asia. begitu juga dengan aktor Jake Gyllenhaal yang membayar jumlah yang sama untuk hak atas karbon dengan penanaman pohon di Mozambik, Afrika.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya selain menghasilkan kayu sebagai bahan baku industri perkayuan, hutan tanaman juga memiliki manfaat lainnya seperti fungsi hutan alam pada daerah aliran sungai untuk tata air, mengurangi terjadinya erosi, dan secara relatif meningkatkan keanekaragaman hayati dibandingkan dengan tipe penutup lahan sebelumnya seperti semak, belukar dan alang-alang, atau tanah terbuka. Dan sekarang manfaat yang semula tidak terukur (intangible) dalam menghasilkan udara bersih mulai mendapatkan tempat dengan munculnya isu pemanasan global, dimana hutan sangat diharapkan untuk secara konkrit berperan didalam mengurangi pemanasan global., dengan menjual kemampuan menyerap karbon hutan tersebut dan memperoleh kompensasi dari para negara maju. Sehingga kita dapat memanfaatkan hutan tanpa harus merusaknya tetapi justru dengan melestarikannya dengan tidak menebang hutan dan ‘menjaga” hutan agar dapat menjalankan perannya sebagai penyerap karbon di atmosfer dalam mengurangi dampak dari Global Warming.

Untuk Indonesia sendiri, kita perlu berhati-hati dalam mekanisme carbon trade karena sampai saat ini belum ada data dasar untuk perhitungan perdagangan karbon. Sampai beberapa tahun mendatang masih sulit diperkirakan. Pemerintah dan kaum ilmuwan kita masih harus mengkaji berapa jatah emisi kita dan berapa jatah yang bisa kita jual ke negara lain guna memperoleh kredit untuk penanaman pohon melalui reboisasi. Sebagaimana biasa dalam bisnis dan perdagangan umumnya masyarakat cenderung berada dalam posisi yang lemah untuk negosiasi, informasi harga dan peluang bisnis dan mempunyai keterbatasan dalam akses kepada kelembagaan keuangan. Keterbatasan masyarakat cenderung dimanfaatkan oleh pihak lain. Akibatnya pihak yang kuat mendapat keuntungan sedangkan masyarakat diperalat. Oleh karena itu kita perlu meningkatkan kewaspadaaan dan bersikap aktif terhadap mekanisme carbon trade di negara kita agar negara kita tidak salah langkah dan terjerumu

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s