Jika GlobaL Warming Terus terjadi maka manusia akan seperti Ini

Ada – ada saja cara orang untuk menunjukkan aksi protesnya.
Seperti yang satu ini, sekitar 600 orang “telanjang” melakukan foto bersama di kawasan pegunungan Alpen, Swiss pekan lalu. Aksi mereka ini untuk menggerakkan hati ratusan, ribuan, jutaan, bahkan mungkin milyaran penduduk dunia untuk peduli pada nasib bumi. Mereka khawatir, semakin menghangatnya suhu bumi akan meningkatkan resiko bahaya pada kehidupan.

Seperti yang kita tahu, “global warming” telah menyebabkan berbagai macam dampak seperti perubahan iklim, krisis air bersih, meluasnya penyakit tropis, punahnya binatang langka, kompetisi energi, menyempitnya permukaan daratan, bencana alam (banjir, longsor) dll. Tentu saja di kemudian hari, bencana ini lambat laun akan seperti bom waktu yang siap menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Untuk itu, kesadaran dan partisipasi seluruh warga dunia dalam melestarikan bumi beserta isinya sangat dinantikan wujud nyatanya.

Aksi protes 600 orang telanjang ini diabadikan oleh seorang fotografer bernama Spencer Tunic. Kelompok “telanjang ini dibagi menjadi dua bagian. Sebagian yang akan dipotret diminta untuk naik ke atas pegunungan Alpen dan sebagian lagi menunggu gilirannya. Udara dingin yang menyerang, tidak menyurutkan niat mereka untuk melakukan pemotretan.

Meski terkesan gila dan aneh, aksi ini cukup menggelitik. Semoga saja aksi ini bukan dilihat dari sisi “jorok” nya tetapi dapat dipahami sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap lingkungan.

Beberapa sumber diambil dr detik.com

Iklan

Carbon Trade, Solusi Kurangi Efek GlobaL Warming

 

Global Warming atau Pemanasan Global saat ini telah menjadi soroton seluruh masyarakat dunia dan menjadi topik utama dalam Konferensi Para Pihak ke-13 dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim atau UNFCCC di Nusa Dua Bali, 3 – 14 Desember 2007. Sekitar 9.575 peserta dari 185 negara berusaha untuk mencari solusi bagaimana menahan laju dari dampak Global Warming tersebut . Global Waming sendiri adalah meningkatnya suhu rata-rata di permukaan bumi akibat dari meningkatnya jumlah emisi karbon di atmosfer. Global Warming akan diikuti dengan perubahan iklim di bumi ini, seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga terjadi menimbulkan banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami musim kering yang berkepanjangan akibat naiknya suhu di bumi.

Selain itu juga dampak dari Global Warming adalah meningkatnya tinggi muka air laut dan membuat air laut tidak asin lagi. Menurut para peneliti, perubahan iklim di belahan Bumi utara telah melelehkan gletser dan membawa lebih banyak hujan. Ini menyebabkan lebih banyak air tawar mengalir ke laut. Akibat langsungnya adalah kenaikan permukaan air laut dan tenggelamnya wilayah pesisir lalu hujan dan aliran di wilayah tinggi akan meningkat. Curry dan Cecilie Mauritzen dari Norwegian Meteorological Institute memperhitungkan ada ekstra 19.000 kilometer kubik air mengalir ke laut utara antara tahun 1965 hingga 1995. Sebagai perbandingan, Sungai Mississippi mengalirkan sekitar 500 kilometer kubik air tawar ke Teluk Meksiko tiap tahun. Sedangkan Amazon, sungai terbesar dunia, memasok sekitar 5.000 kilometer kubik air ke lautan setiap tahun.

Karena air dengan kadar garam rendah itu kurang padat, maka menambahkan air tawar ke laut bisa mempengaruhi alirannya – seperti sistem arus Atlantik yang mempertemukan air dingin dari wilayah Artik dengan air hangat dari daerah tropis. Bagian atas arus ini terdiri dari aliran air hangat, seperti arus teluk, yang bergerak ke utara di sepanjang permukaan laut. Di wilayah lintang yang tinggi, arus ini menjadi dingin dan menuju ke bawah – melepaskan panas ke atmosfer dan menyebabkan iklim dingin yang tidak membekukan di wilayah-wilayah seperti Inggris. Nah, bila banyaknya air tawar yang masuk ke laut mengubah aliran ini – baik musiman maupun jangka panjang – maka ia akan mempengaruhi banyak hal, mulai terbentuknya badai hingga banjir dan udara panas. Sejauh ini memang belum ada perubahan signifikan yang diteliti berkaitan dengan makin banyaknya air tawar yang masuk ke laut. Namun Curry dan Mauritzen memperkirakan perubahan seperti itu akan terjadi bila pemanasan global terus berlangsung.

Penyebab utama dari Global Warming itu sendiri adalah menngkatnya jumlah emisi karbon akibat penggunaan energi fosil, terutama di sektor industri. Negara industri seperti Amerika Serikat, China, Australia, Jepang dan Rusia menjadi aktor utama sebagai penyebabnya. Hal ini disebabkan oleh pola konsumtif dan gaya hidup masyarakat negara-negara maju tersebut. AS sendiri adalah salah satu negara yang belum meratifikasi protokol Kyoto, sedangkan Australia sudah meratifikasi protokol Kyoto dengan dilantiknya Kevin Rudd sebagai perdana menteri Australia yang baru menggantikan John Howard. Penyebab lainnya adalah rusaknya hutan sebagai paru-paru bumi dan sebagai media penyerap karbon terbesar. Pembalakan liar, kebakaran hutan, menyebabkan deforestasi besar-besaran karena tidak diimbangi dengan pelestarian dan penanaman kembali hutan tersebut. Karbon yang dihasilkan dari kebakaran hutan tersebut juga mendukung terjadinya Global Warming, dan Indonesia merupakan salah satu negara penghasil karbon terbesar dari kebakaran hutan. Seperti yang kita ketahui, kebakaran hutan merupakan masalah rutin bagi negara kita.

Beberapa cara dan metode pengurangan dampak dari Global Warming sedang dikembangkan oleh para negara maju akibat dari melebihi batas emisi karbon yang dihasilkan oleh negara mereka dari batas normal, diantaranya adalah carbon trade atau perdagangan karbon. Carbon trade adalah menjual kemampuan pohon, terutama pohon berkayu untuk menyerap karbon demi mengurangi emisi karbon di atmosfer. Carbon trade merupakan mekanisme baru yang berkembang saat ini, dimana para negara maju membayar kompensasi akibat emisi karbon yang dihasilkan oleh negaranya kepada negara berkembang, agar dapat mengelola dan menjaga kelestarian hutannya dengan tujuan utama sebagai penyerap karbon yang ada di atmosfer agar mengurangi emisi karbon di udara sekaligus mengurangi dampak dari Global Warming. Beberapa aktor Hollywood bahkan berinisiatif untuk mengurangi dampak dari Global Warming, diantaranya Brad Pitt yang membayar pada perusahaan pemasaran karbon sebesar 10.000dollar AS untuk memelihara hutan atas namanya di Kerajaan Bhutan, Asia. begitu juga dengan aktor Jake Gyllenhaal yang membayar jumlah yang sama untuk hak atas karbon dengan penanaman pohon di Mozambik, Afrika.

Tidak dapat dipungkiri bahwasanya selain menghasilkan kayu sebagai bahan baku industri perkayuan, hutan tanaman juga memiliki manfaat lainnya seperti fungsi hutan alam pada daerah aliran sungai untuk tata air, mengurangi terjadinya erosi, dan secara relatif meningkatkan keanekaragaman hayati dibandingkan dengan tipe penutup lahan sebelumnya seperti semak, belukar dan alang-alang, atau tanah terbuka. Dan sekarang manfaat yang semula tidak terukur (intangible) dalam menghasilkan udara bersih mulai mendapatkan tempat dengan munculnya isu pemanasan global, dimana hutan sangat diharapkan untuk secara konkrit berperan didalam mengurangi pemanasan global., dengan menjual kemampuan menyerap karbon hutan tersebut dan memperoleh kompensasi dari para negara maju. Sehingga kita dapat memanfaatkan hutan tanpa harus merusaknya tetapi justru dengan melestarikannya dengan tidak menebang hutan dan ‘menjaga” hutan agar dapat menjalankan perannya sebagai penyerap karbon di atmosfer dalam mengurangi dampak dari Global Warming.

Untuk Indonesia sendiri, kita perlu berhati-hati dalam mekanisme carbon trade karena sampai saat ini belum ada data dasar untuk perhitungan perdagangan karbon. Sampai beberapa tahun mendatang masih sulit diperkirakan. Pemerintah dan kaum ilmuwan kita masih harus mengkaji berapa jatah emisi kita dan berapa jatah yang bisa kita jual ke negara lain guna memperoleh kredit untuk penanaman pohon melalui reboisasi. Sebagaimana biasa dalam bisnis dan perdagangan umumnya masyarakat cenderung berada dalam posisi yang lemah untuk negosiasi, informasi harga dan peluang bisnis dan mempunyai keterbatasan dalam akses kepada kelembagaan keuangan. Keterbatasan masyarakat cenderung dimanfaatkan oleh pihak lain. Akibatnya pihak yang kuat mendapat keuntungan sedangkan masyarakat diperalat. Oleh karena itu kita perlu meningkatkan kewaspadaaan dan bersikap aktif terhadap mekanisme carbon trade di negara kita agar negara kita tidak salah langkah dan terjerumu

Mendung Leonid Sulit Teramati?

 Akibat langit mendung dan hujan di Indonesia, hujan meteor Leonid yang mencapai puncaknya pada Minggu (18/11) dini hari sulit teramati. Hanya pengamatan di Megamendung, Bogor, yang berhasil mengamati salah satu hujan meteor yang dianggap paling spektakuler sepanjang tahun ini.

Pengamatan di kawasan Megamendung, dilakukan oleh Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ). Mereka berhasil melihat 20-50 meteor selama sejam, pukul 02.00-03.00.

“Cuaca di Bogor biasanya mendung dari sore hingga lewat tengah malam. Menjelang subuh, langit biasanya kembali cerah,” kata Ketua HAAJ Tersia Marsiano.

Pengamatan di Bandung dan Yogyakarta gagal. Mendung dan hujan di beberapa kota sejak Sabtu sore bertahan hingga menjelang Minggu subuh.

Menurut Ketua Umum Jogja Astro Club Mutoha AR, pengamatan klubnya gagal meski sudah memilih lokasi di Pantai Parangkusuma, Yogyakarta.

Adapun pengamatan oleh komunitas astronomi Rigel Kentaurus di kawasan Dago, Bandung, hanya bisa melihat Planet Venus, Saturnus, dan Mars.

Awan tebal juga menyelimuti langit Jakarta, ditambah polusi cahaya yang kuat membuat langit Jakarta berwarna kemerahan sehingga menyulitkan bagi pengamatan obyek langit apa pun.

Meteor atau bintang jatuh terlihat berupa kilatan cahaya ketika partikel atau bongkahan materi dari luar angkasa terbakar saat memasuki atmosfer Bumi. Setiap tahun, hujan meteor Leonid terjadi 14-21 November. Tahun ini, puncaknya pada 18 November.

Menurut dosen Program Studi Astronomi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ITB, Hakim L Malasan, jumlah meteor dalam hujan meteor Leonid kali ini tidak sebanyak tahun-tahun sebelumnya yang bisa ratusan hingga ribuan meteor per jam. Ini disebabkan daerah sisa lintasan Komet 55P/Temple-Tuttle yang dilalui Bumi kali ini jauh lebih renggang.

Dampak Global Warming Terhadap Binatang – Binatang Kutub?

Yup, satu lagi artikel tentang global warming alias pemanasan global. Mumpung semua orang memang sedang membahas global warming, dan mumpung konferensi yang di Bali belum selesai, aku mau bahas sedikit saja soal global warming. Bukan sebab-sebab atau gejala-gejala global warming yang mau aku tuliskan di sini. Bukan apa-apa, aku merasa memang aku bukan orang yang tepat untuk itu. Masih jauh lebih banyak orang yang lebih pintar dan berkompetensi untuk menjelaskan dari A-Z tentang global warming. Polar Bear Tapi tahukah Anda dampak global warming terhadap binatang-binatang di kutub, terutama terhadap beruang kutub? Menurut artikel yang aku baca di majalah The Australian’s Women’s Weekly (nama yang menjebak karena itu majalah bulanan) edisi April 2007, keberadaan beruang kutub sangat terancam punah oleh global warming. Mereka kelaparan, tenggelam, bahkan menunjukkan kecenderungan kanibalisme. Beruang kutub bergantung pada es untuk berburu, sedangkan efek global warming membuat banyak es di kutub mencair dengan cepat. Karena pencairan es besar-besaran ini, beruang kutub harus berenang lebih jauh untuk berburu makanan. Walaupun mereka dapat berenang sejauh 30 kilometer, tapi dengan pencairan es ini, tidak jarang mereka harus berenang lebih jauh, yang menyebabkan mereka kelelahan bahkan mati tenggelam. Saat ini, hidup 20.000 beruang kutub masih bergantung pada lapisan es yang semakin menipis. Di sanalah tempat mereka berburu makanan dan berkembang biak. Dengan mencairnya es di kutub, beruang kutub yang semakin kekurangan makanan sering terpaksa melakukan aksi kanibalisme atau bahkan mati kelaparan. Bahkan, bayi-bayi beruang kutub pun tidak dapat bertahan karena perubahan pada lapisan es dan rendahnya nutrisi yang diberikan oleh induk mereka. Begitu parahnya dampak global warming terhadap ekosistem dunia. Perbuatan manusialah yang mengakibatkan begitu banyak kerusakan di muka bumi, bahkan mulai mengancam kelangsungan hidup makhluk-makhluk lain. Dan apakah kita hanya akan berpangku tangan memandang hasil ‘perbuatan’ kita itu? Ada sebuah film yang aku rekomendasikan untuk Anda saksikan, yaitu film semi-dokumenter yang berisi presentasi Al Gore. Judulnya An Inconvenient Truth. Oke, memang menonton film (semi) dokumenter belum membudaya di masyarakat Indonesia, tapi kalau Anda berhasil mengalahkan rasa enggan, bosan, dan kantuk Anda, ada banyak pengetahuan yang akan Anda dapatkan dari film itu. Pengetahuan apa? Sebagai contoh kecil saja, apa Anda tahu bahwa dengan mencairnya es di kutub akan mengakibatkan naiknya permukaan laut di seluruh dunia sebanyak 6 meter? Bayangkan apa yang akan terjadi pada kita di Indonesia yang merupakan negara kepulauan! (Sudah pasti Belanda akan tenggelam tanpa sisa – kalau-kalau Anda bertanya-tanya) Ada beberapa hal kecil yang bisa kita lakukan untuk mencegah meluasnya dampak global warming, misalnya mulai menghemat pemakaian listrik dan air bersih, membuang sampah pada tempatnya, menghemat pemakaian kertas dan membudayakan daur ulang, serta mensukseskan program penanaman pohon.

DAMPAK PEMANASAN GLOBAL WARMING

Para ilmuan menggunakan model komputer dari temperatur, pola presipitasi, dan sirkulasi atmosfer untuk mempelajari pemanasan global. Berdasarkan model tersebut, para ilmuan telah membuat beberapa prakiraan mengenai dampak pemanasan global terhadap cuaca, tinggi permukaan air laut, pantai, pertanian, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia.

Cuaca

Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.

Daerah hangat akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Para ilmuan belum begitu yakin apakah kelembaban tersebut malah akan meningkatkan atau menurunkan pemanasan yang lebih jauh lagi. Hal ini disebabkan karena uap air merupakan gas rumah kaca, sehingga keberadaannya akan meningkatkan efek insulasi pada atmosfer. Akan tetapi, uap air yang lebih banyak juga akan membentuk awan yang lebih banyak, sehingga akan memantulkan cahaya matahari kembali ke angkasa luar, di mana hal ini akan menurunkan proses pemanasan (lihat siklus air). Kelembaban yang tinggi akan meningkatkan curah hujan, secara rata-rata, sekitar 1 persen untuk setiap derajat Fahrenheit pemanasan. (Curah hujan di seluruh dunia telah meningkat sebesar 1 persen dalam seratus tahun terakhir ini). Badai akan menjadi lebih sering. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah. Akibatnya beberapa daerah akan menjadi lebih kering dari sebelumnya. Angin akan bertiup lebih kencang dan mungkin dengan pola yang berbeda. Topan badai (hurricane) yang memperoleh kekuatannya dari penguapan air, akan menjadi lebih besar. Berlawanan dengan pemanasan yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi. Pola cuaca menjadi tidak terprediksi dan lebih ekstrim.

Tinggi muka laut

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Kenaikan permukaan laut
Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

Perubahan tinggi rata-rata muka laut diukur dari daerah dengan lingkungan yang stabil secara geologi.

Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.

Perubahan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40 inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda, 17,5 persen daerah Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.

Bahkan sedikit kenaikan tinggi muka laut akan sangat mempengaruhi ekosistem pantai. Kenaikan 50 cm (20 inchi) akan menenggelamkan separuh dari rawa-rawa pantai di Amerika Serikat. Rawa-rawa baru juga akan terbentuk, tetapi tidak di area perkotaan dan daerah yang sudah dibangun. Kenaikan muka laut ini akan menutupi sebagian besar dari Florida Everglades.

Pertanian

Orang mungkin beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.

Hewan dan tumbuhan

Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.

Kesehatan manusia

Di dunia yang hangat, para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, seperti demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.

  • Kalender

    • Oktober 2017
      S S R K J S M
      « Mei    
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Cari